RESPONS ESTRUS SAPI RESIPIEN FH YANG DISINKRONISASI DENGAN HORMONE GnRH, ESROGEN, PROGESTERON DAN PROSTAGLANDIN

Ristika Handarini, Sukurna Kurniawan, Elis Dihansih

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penyuntikan kombinasi hormone GnRH, estrogen, progesteron dan prostaglandin terhadap respon estrus, onset estrus dan durasi estrus sapi FH resipien. Penelitian ini menggunakan 15 ekor sapi FH resipien tidak bunting, yang akan mendapat perlakuan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah: P1 = Penyuntikan hormon prostaglandin (Capriglandin) 137,5 mg/ 5 ml  pada hari ke-0 dan hari ke 11 dengan dosis yang sama, P2 = Penyuntikan hormon GnRH (Fertagyl) 100 µg/ 2 ml  pada hari ke-4  dan penyuntikan hormon protaglandin (Prostavet) 2 ml  pada hari ke-11, dan P3 = Penyuntikan hormon progesterone (Potahormon) 250 g/ 40 ml dan estrogen (Ovalumon)  40,000 IU/ 2 ml  pada hari ke-5 dan penyuntikan hormon prostaglandin (Capriglandin) 137,5 mg/ 5 ml pada hari ke-11. Data dianalisis menggunakan Chi-Square untuk semua paramers.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon estrus sapi yang diberi perlakuan menunjukkan  gejala estrus (100%), onset estrus pada hari ketiga (72 jam setelah disinkronisasi) dan lama estrus selama 3 hari (72 jam). Semua perlakuan merupakan cara yang efektif  untuk sinkronisasi estrus. Kesimpulan penelitian adalah  sinkronisasi estrus resipient sapi FH dengan  menggunakan hormone  GnRH, estrogen, progesteron dan  prostaglandin memberikan  hasil sama baiknya pada semua parameter. Disarankan untuk aplikasi dilapangan menggunakan hormon progesteron (Potahormon) 250 g/ 40 ml pada hari ke-0, hormon estrogen (Ovalumon)  40,000 IU/ 2 ml  hari ke-5  dan injeksi  hormon prostaglandine (Capriglandin) 137,5 mg/ 5 ml pada kari ke-11.

Keywords


respon estrus, sapi FH, GnRh, Estrogen dan rogesteron, Prostaglandin

Full Text:

PDF

References


Bo GA, Baruseloli PS, Chesta PM dan Martin CM. 2006. The Timing of Ovulation and insemination schedules in superstimulated catlle. Theriogenology. 65(1): 89 – 101.

Cerri RLA, Santos JEP, Juchem SO, Galvao KN dan Chebel RC. 2004. Timed artificial insemination with estradiol cypionate or insemination at estrus in high-producing dairy cows. J.Dairy Sci. 87: 3704-3715.

Chenault JR, Kratser DD, Rzepkowski RA dan Goodwin MC. 1990. LH and FSH response of Holstein Heifer to Fertirelin Acetate, Gonadrelin and Buserin. Theriogenology 53:1407–1414.

Colazo MG dan Martínez MF. 2005. Effect of estradiol valerate on ovarian follicle dynamics and superovulatory response in progestin-treated cattle. Theriogenology; 63:1454-1468.

Efendi M, Siregar Tn, Hamdan, Dasrul, Thasmi Cn, Razali, Sayuti A dan Panjaitan B. 2015. Angka Kebuntingan Sapi Lokal Setelah Diinduksi Dengan Protokol Ovsynch. Jurnal Medika Veteriner. Vol. 9 (2): 159 -162.

Elsden RP dan Seidel GE JR. 1992. Embryo transfer procedure for cattle.In Animal Reproduction Laboratory.Colorado State University. Fort Collins, Colorado.

Frandson RD. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak, Edisi ke-7, diterjemahkan oleh Srigandono B dan Praseno K, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Goff AK. 2004. Steroid Hormon Modulation of Prostaglandin Secretionin the Ruminant Endometrium During the Estrous Cycle. J. Of Biology Reproduction 71: 11-16.

Hafez B. 2000. Reproduction In Farm Animal. 7thedition . Lea Febiger. Philadelphia.

Handayani UF, Hartono M, dan Siswanto. 2015. Respon Kecepatan Timbulnya estrus dan Lama Estrus pada Berbagai Paritas Sapi Bali setelah Dua Kali8 Pemberian Prostaglandin F2α (PGF2 α). Jurnal

Hartantyo S. 1995. Calculation of percent progesterone in skim milk fraction when centrifugation temperature and butter fat of whole milk are known. Bull. FKH-UGM.Vol.XIVNo. 2:1-6.

Ismail M. 2009. Onset dan Intensitas estrus Kambing pada umur yang berbeda. J. Agroland. 16 (2): 180 – 186.

Jillella D. 1992. Embryo Transfer Technology and Its Aplication in Developing Countries. A Monograph Development for National Seminar to be conducted in India, Indonesia, Malaysia, Philippines, Srilangka and Thailand. Oktober 1992.

King KG, Seidel Jr GE dan Elsden RP. 1995. Bovine embryo transfer pregnancies: abortion rates and caracteristics of calves. J. Anim. Sci. 61:747-757.

Larson JE, Lamb GC, Stevenso JS, Johnson SK, Geary TW, Kesler DJ, Dejarnette JM, Schrick FN, DiCoztanzo A dan Arseneau JD. 2006. Synchronization of Estrus in Sucled Beef Cows for Detected Estrous and Artificial Insemination Using Gonadotroping-Releasing Hormone, Prostaglandin F2α, and Progesteron. J. Anim. Sci. 71:61.

Malik A, Wahid H, Rosnina Y, Bukar M, Kasim A dan Sabri M. 2011. Effect of resynchronization with progesterone and prostaglandin F2 alpha on estrus response and pregnancy rate in beef catlle. J. Anim. Vet. Adv. 10: 2474 – 2478.

Marawali A. 2001. Dasar-Dasar Ilmu Reproduksi Ternak. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Tinggi Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur. Jakarta.

Mcdougall dan Willamson NB. 1995. Follicle pattern during extended periods of post partum ovulation in pasture-fed dairy cows. Research Veterinary Science 58: 212.

Moreira dan Thatcher WW. 2000. Effect of Day of the estrous Cycle at the Inisiation of a Timed Artificial Insemination Protocol on Reproductive Responses in Dairy Heifers. J. Anim. Sci. 78:1568-157.

Pohan A dan Talib C. 2010. Apliikasi Hormon Progesteron dan estrogen pada Betina Induk Sapi bali An-estrus Post-partum yang Digembalakan di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur. Pross. Semi8nar Nasional Teknoologi Peternakah dan Veteriner. 19 – 24.

Putro PP. 2008. Dampak Crossbreeding terhadap Reproduksi Induk Turunannya: Hasil Studi Klinis. Lokakarya Lustrum VIII Fak. Peternakan UGM, 8 Agustus 2009.

Putro PP dan Kusumawati A. 2014. Dinamika Folikel Ovulasi Setelah Sinkronisasi Estrus dengan Prostaglandin F2aα pada Sapi Perah. Jurnal Sain Veteriner 32 (1): 22 – 31.

Ramli M, Siregar TN, Thasmi CN, Dasrul, Wahyuni S dan Sayuti A. 2016. Hubungan Antara Intensitas Estrus dengan Konsentrasi Estradiol pada Sapi Aceh Saat Inseminasi. Jurnal Medika Veterinaria, Vol. 10 (1): 27 – 30.

Schmitt EJP, Drost M, Diaz T, Roomes C dan Tacher WW. 1996. Effect of a gonadotropin-releasing hormone agonist on follicle recruitment and pregnancy rate in cattle. J. Anim Sci. 74:154-161.

Siregar TN, Hamdan H, Riady G, Panjaitan B, Aliza D, Pratiwi EF, Darianto T dan Husnurrizal. 2014. Efficacy of two estrus synchronization methods in Indonesian Aceh CatlleInter. J. Vet. Sci. 4(2): 87 – 91.

Solihati N. 2005. Pengaruh Metode Pemberian PGF2α Dalam Sinkronisasi Estrus Terhadap angka Kebuntingan Sapi Perah Anestrus. Fakultas Peternakan. Universitas Padjajaran.

Stevenson JS dan Phatak AP. 2010. Rates of luteolysis and pregnancy in dairy cowsafter treatment with cloprostenol or dinoprost.Theriogenology 73:1127-1138.

Tenhagen BA. 2005. Factors influencing conception rate after synchronization of ovulation and timed artificial insemination–A review. Dtsch. Tieraerztl. Wochenschr. 112:136–141.

Wodzicka TM, Sutama IK, Putu IG dan Chaniago TD. 1991. Reproduksi Tingkah Laku dan Produksi Ternak Indonesia. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Pertanian

E-ISSN 2550-0244 P-ISSN 2087-4936

LPPM Universitas Djuanda Bogor

Jl. Tol Ciawi No 1 Kotak Pos 35 16720

Gedung A Lantai 2

 

indexing by:

    

 

View My Stats

 

Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.