PENGGUNAAN PREPARAT PROGESTERON DAN HORMON GnRH DALAM PENENTUAN ESTRUS PADA PROGRAM SUPEROVULASI SAPI LIMOSIN

Angga Setiawan, Elis Dihansih, Desy Zamanti

Abstract


Program superovulasi dapat dilakukan dengan Perlakuan hormonal, hormon yang sering digunakan antara lain: Preparat Progesteron dan hormon GnRH sebagai penentu estrus dalam program superovulasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh implan preparat progesteron dan penggunaan hormon GnRH terhadap respon superovulasi. Penelitian ini menggunakan 10 ekor sapi Limosin yang memiliki umur 3 – 7 tahun, genetik unggul, siklus estrus normal, fertilitas tinggi, dan bebas dari penyakit reproduksi menular. Semua sapi telah dilakukan seleksi dengan cara palpasi rektal untuk menentukan status ovarium dan disinkronisasi dengan preparat progesteron dan hormon GnRH. Sapi donor dibagi dalam dua perlakuan, P1: menggunakan hormon GnRH dan P2: menggunakan preparat progesteron. Metode penyuntikan FSH secara IM, dosis menurun pagi 4 ml, 3 ml, 2 ml, 1 ml dan sore 4 ml, 3 ml, 2 ml, 1 ml. Semua perlakuan, pada penyuntikan FSH hari ke-3 pagi disertai dengan penyuntikan PGF2α 2 ml dan sore disertai cabut preparat progesteron (hanya P2), dua hari kemudian dilakukan IB dan tujuh hari setelah IB dilakukan koleksi dan evaluasi embrio. Data dianalisis dengan analisis statistik (Chi-Square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan preparat progesteron sebagai penentu estrus memberikan hasil yang lebih banyak pada perolehan embrio layak teransfer.


Keywords


preparat progesteron, hormon gnrh, respon superovulasi, embrio layak transfer, sapi limosin

Full Text:

PDF

References


Adriani, Rosadi B, Depison. 2009a. Jumlah dan Kualitas Embrio Sapi Brahmancross setelah Pemberian Hormon FSH dan PMSG. Anim. Reprod. 11(2):96‐102.

Amaridis, G.S., Tsiligianni T. and Vainas E. 2006. Follicle ablation improves the ovarian response and the number of collected embryos in superovulated cow during the early stages lactation. Reprod. Dom. Anim. 5:402-407.

[Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan]. 2015. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2015. ISBN : 978-979-628-031-5. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI. Jakarta

Gaspersz V. 1991. Teknik Analisis dalam Penelitian Percobaan. Tarsito. Bandung.

Hardjopranjoto S. 1995. Ilmu Kemajiran pada Ternak. Airlangga University Press. Surabaya.

Harsi T. 2005. Efek Tingkat Penggunaan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dalam Program Produksi Terhadap kualitas dan Kuantitas Embrio Sapi Perah Frisien Holstein (FH). [Tesis]. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Jauhari S. 2014. Pengaruh Bangsa Sapi dan Dosis Follicle Stimulating Hormone (FSH) Terhadap Laju Ovulasi Hubungannya dengan Produksi Embrio.http://bbpkhcinagara.deptan.go.id/index.php/14-artikel-kesehatan-hewan/55-pengaruh-bangsa-sapi-dan-dosis-follicle-stimulating-hormone-fsh-terhadap-laju-ovulasi-hubungannya-dengan-produksi-embrio [27 April 2016]

Jodiansyah S, Imron M, Sumantri C. 2013. Tingkat Respon Superovulasi dan Produksi Embrio In Vivo dengan Sinkronisasi CIDR (Controlled Internal Drug Releasing) Pada Sapi Donor Simmental. Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan ISSN 2303-2227 Vol. 01 No. 3, Oktober 2013 Hlm: 184-190. Bogor.

Marsan A. 2012. Kualitas Embrio Hasil Superovulasi pada Bangsa Sapi yang Berbeda. [Skripsi]. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Nurhayat W. 2014. BPS: Tahun Depan Permintaan Daging Sapi Naik 8% Jadi 639.000 Ton. http://finance.detik.com/read/2014/12/23/152542/2785674/ 4/bps-tahun-depan-permintaan-daging-sapi-naik-8-jadi-639000-ton[22 Februari 2016]

Prasetyo D. 2012. Tingkat Superovulasi pada Beberapa Bangsa Sapi dengan Sumber Follicle Stimulating Hormone (FSH) yang Berbeda. [Skripsi]. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Pertanian, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Putro PP. 2008. Dinamika Perkembangan Folikel Dominan dan Korpus Luteum Setelah Sinkronisasi Estrus pada Sapi Peranakan Friesian Holstein. [Disertasi]. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rocha HER. 2005. Analysis of Record of Embryo Production in Red Brahman Cows. [Thesis]. Texas A&M University.

Saito S. 1997. Manual on Embryo Transfer of Cattle. National Livestock Embryo Centre (NLEC) Cipelang and Japan International Cooperation Agency (JICA).

Sastrawiludin C. 2015. Perbedaan Waktu Penyuntikan Follicle Stimulating Hormone terhadap Respon Superovulasi Sapi Donor Simmental. [Skripsi]. Universitas Djuanda Bogor. Bogor

Silva JCC, Alvarez RH, Zanenga CA, Pereira GT. 2009. Factors affecting embryo production in superovulated Nelore catlle. Anim. Reprod. 6(3) : 440-445.

Supriatna I. 2013. Transfer Embrio pada Ternak Sapi. Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Valencia J, Flores M, Aldana AS, Anta E. 2004. Effect of PGF2 administration before uterine flushing on embryo recovery rate in superovulated cows and heifers. Revista Cientifica. 14:74-78.

Yusuf TL. 1990. Pengaruh Prostaglandin F2α dan Gonadotropin Terhadap Aktivitas Birahi dan Superovulasi dalam Rangkaian Kegiatan Transfer Embrio Pada Sapi Fries Holand, Bali dan Peranakan Ongole. [Disertasi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


JURNAL PERTANIAN

E-ISSN 2550-0244 P-ISSN 2087-4936

LPPM Universitas Djuanda Bogor

Jl. Tol Ciawi No 1 Kotak Pos 35 16720

Gedung A REKTORAT Lantai 2

 

indexing by:

    

 

 

 

View My Stats

 

Creative Commons Licence
JURNAL PERTANIAN This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.