UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP BAKTERI PATOGEN DAN IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF EKSTRAK KULIT KAYU RARU (Vatica leucocapra)

Nenengsih Verawati, Nur Aida

Abstract


Tanaman raru adalah jenis tanaman hutan yang memiliki tinggi 70-85 cm, memiliki kulit yang tebal kemudian diolah menjadi serbuk oleh masyarakat wilayah Kalimantan biasa dinamakan kulit kayu resak yang biasanya dimanfaatkan sebagai bahan pengawet nira nipah . berdasarkan dari penelitian, kayu raru memiliki kandungan senyawa terpenoid, arilpropanoid, benzofuran, flavonoid, hidrokuinon dan oligostilbenoid (Fuad, 2010). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zona hambat dari beberapa konsentrasi ekstrak kulit kayu raru dan mengetahui senyawa apa saja yang terkandung pada ekstrak kulit kayu raru. Metode penelitian yang digunakan adalah eksoperimental deskriptif yaitu menggunakan ekstraksi soxhlet yaitu pelarut etanol dan methanol (p.a). Masing-masing ekstraksi tersebut dilakukan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 18 satuan percobaan. Data hasil pengamatan dianalisa dengan dua macam analisa yaitu analisa deskriptif menggunakan mikrosoft Excel. Data hasil pengamatan ditampilkan dalam bentuk tabel, dan untuk mudah interpretasi data maka dibuat grafik atau histogram. Analisa ini digunakan analisa rendemen, untuk uji aktivitas antibakteri, dan  identifikasi senyawa aktif kulit kayu raru metode GC-MS. Data hasil penelitian menunjukkan rendemen tertinggi pada ekstrak kulit kayu raru yang menggunakan pelarut etanol dan hasil uji zona hambat diperoleh pada ekstrak kulit raru yang menggunakan pelarut etanol dengan bakteri uji S.aureus. Hasil penelitian diperoleh rendemen paling tinggi diperoleh pada penggunan pelarut metanol yaitu 35,65%. Perlakuan terbaik diperoleh pada aktivitas antibakteri dengan pelarut metanol 99%. Bakteri gram positif yaitu S.aureus lebih sensitif terhadap aktivitas antibakteri.

KATA KUNCI: aktivitas antibakteri, GC-MS, kulit kayu raru.

 

 

ANTIBACTERIA ACTIVITY EXPERIMENT ON PATHOGEN BACTERIA AND ACTIVE COMPOUND IDENTIFICATION ON RARU WOOD BARK (Vatica leucocapra)

 

ABSTRACT

Raru is a forest tree which has height about 70-85 cm, has thick bark, which is usually processed to become powder in Kalimantan, called resak wood bark. It’s usually used as a preservative on nira nipah. Based on Fuad (2010), raru wood bark has compound such as terpenoid, arilpropanoide, benzofurane, flovonoide, hidroquinon and oligostilbenoide. The aims of this experiment are to identified clear zone from several consentration (90%, 95% and 99%) and active compound on raru wood bark extract. The treatments are soxhlet extraction with ethanol and methanol solvent (p.a.). Each extraction is done three times so there will be 18 experimental units. Rendement was analyzed by the antibacteria activity and the active compound identification with GC-MS. Result of this experiment is analyzed descriptively with microsoft excel programe and the data is showed in tabels and graphs or histograms. The result of the experiment are the highest rendement taken from methanol extraction treatment, is 35,65%. The best treatment is taken from antibacterial activity examination of methanol solvent treatment (99% consentration). Raru wood bark extract more effectively to inhibit gram positive bacteria (S. Aureus) than gram negative bacteria (E. Coli). Chromatogram GC-MS identified hexadecanoic acid as an active compound in raru wood bark, which belongs to carboxylic acid group.


Keywords


antibacteria activity, GC-MS, raru wood bark.

Full Text:

PDF

References


Anonymous. 2010. Fase Pertumbuhan Bakteri. http://www.alexcosie.blogspot.com/2010/11/fase-pertumbuhan-bakteri. Tanggal Akses 22 Februari 2011.

Ajizah. 2004. Sensitivitas Salmonella Typhimurium terhadap Ekstrak Daun Psidium Guajava L. Jurnal Bioscientiae. 1(1). Hal 31-38.

Ardananurdin dkk. 2004. Uji Efektivitas Dekok Bunga Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi) Sebagai antimikroba terhadap bakteri Salmonella Typhi secara in vitro. Jurnal Kedoktera Brawijaya. 20(1). Hal 35-37.

Black, J.G. 2005. Microbiology Principles and Exporations. Jhon Wiley and Sons, Inc. Airlington.

Brock, T.D., M.T . Madigan., J.M. Martinko and J. Parker. 1994. Biology of Microorganisms. Prentice- Hal 1. International, Inc. New Jersey.

Casas campillo C, et al. (1961). Steroids clix, antimicrobial properties of 21, 21-dimethoxy progesterone and other progesteron analogues. J. Bacteriol. 81(3). Hal 366-375.

Chotiah, S. 2010. Beberapa Bakteri Patogen yang Mungkin dapat ditemukan pada Susu Sapi dan Pencegahannya. Semiloka Nasional Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Balai Besar Penelitian. Bogor.

Dailami, M. 2010. Skrining Fitokimia Herbal Seledri, Daun Jambu Biji, dan Buah Cabe Merah. UNIPA.

Doyle, M. P. dan D. O. Cliver. 1990. Escherichia coli dalam D.O. Cliver (eds) : Food Borne Diseases. Academic Press, Inc, San Diego. Hal 210-214.

Fuad. 2010. Pengaruh Penambahan Serbuk Kulit Kayu Resak, Perebusan dan Radiasi Sinar Ultraviolet Terhadap Nira Nipah. Program Studi Teknologi Hasil Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.

Gunawan. P. 2011. Manfaat Kulit Tanaman raru. Jurusan pertanian. Universitas Negeri Medan.

Kristanti, N.A., Aminah, N.S., Tanjung, M., Kurniadi, B. 2008. Buku Ajar Fitokimia. F.MIPA. Universitas Airlangga. Surabaya.

Kusmiyati, N.W.S., dan Agustini. 2007. Uji Aktivitas Senyawa Antibakteri dari Mikroalga Porphyridium cruetum. Biodiversitas. 8(1). Hal 48-53.

McGaw, L.J,A.K. Jager and J. Van Staden. 2002. Isolation of Antibacterial Fatty Acids from Schotia Branchypetala. Research Centre for plant Growth and Development. University of Natal Pietermaritzbug South Africa.

Neckers, D. C. 1977. Ketenes. J. Am. Chem. Soc. 99(12). Hal 4111-4118.

Pasaribu, G. 2011. Aktvitas inhibisi alfa glukosidase pada beberapa jenis kayu raru. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 29(1). Hal 10-19.

Pavitra, P.S, N. Sreevidya and R.S. Verma. 2009. Antibacterial Activity and Chemical Composition of Essensial Oil of Pamburus Missionin: Journal of Ethnopharmacology. 24 (1). Hal .151-153.

Tortora, et al. 2001. Microbiology in Introduction. International Edition. New York. Banjamin Cummings, Inc.

Wolf, C.E. dan R. Gibbons. 1996. Improved method for qualification of bacteriocins nisin. J. Appl. Bacteriol. 80: 463.




DOI: https://doi.org/10.30997/jp.v8i2.1059

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




JURNAL PERTANIAN

E-ISSN 2550-0244 P-ISSN 2087-4936

LPPM Universitas Djuanda Bogor

Jl. Tol Ciawi No 1 Kotak Pos 35 16720

Gedung A REKTORAT Lantai 2

 

indexing by:

                

   

 

 

View My Stats

 

Creative Commons Licence
JURNAL PERTANIAN This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.